KALIMANTAN UTARA — PT PLN (Persero) melayani 159 pelanggan data center dengan total kapasitas tersambung 2.038 megavolt ampere (MVA) per Rabu (23/9), mayoritas terkonsentrasi di sistem Jawa-Madura-Bali. Pertumbuhan kecerdasan buatan dan transformasi digital membuat sektor pusat data menjadi penggerak baru permintaan listrik nasional. PLN menyiapkan infrastruktur dan skema perencanaan awal agar ekspansi data center tidak mengganggu keandalan pasokan.
Kebutuhan listrik dari industri pusat data diproyeksikan terus naik seiring meluasnya pemakaian kecerdasan buatan (AI), layanan cloud, dan ekonomi digital. PLN mencatat pelanggan data center yang dilayaninya kini menyerap energi 2.378 gigawatt hour (GWh), dengan sekitar 99 persen kapasitas tersambung masih terpusat di sistem Jawa-Madura-Bali. Jawa Barat menjadi salah satu klaster data center terbesar.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menilai karakter permintaan listrik dari sektor ini berbeda dari pelanggan industri biasa. Data center menuntut kapasitas besar, keandalan tinggi, kualitas daya stabil, sekaligus pemanfaatan energi bersih. Karena itu PLN menyiapkan infrastruktur dan layanan yang diselaraskan dengan rencana pengembangan tiap pelanggan.
Executive Vice President Penjualan dan Pelayanan Pelanggan Enterprise PLN, Dini Sulistyawati, memaparkan data tersebut dalam sesi diskusi gelaran Electricity Connect 2026 di ICE BSD City, Tangerang. Menurut dia, konsentrasi di Jawa bukan kondisi permanen. Pengembangan data center mulai merambah ke Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.
Perluasan itu menuntut perencanaan infrastruktur ketenagalistrikan yang mengikuti karakter kebutuhan masing-masing wilayah. Setiap daerah punya profil pembangkit, kapasitas jaringan, dan jadwal pembangunan berbeda. PLN tidak bisa memakai satu cetak biru yang sama untuk semua lokasi.
"Kami percaya ini baru permulaan. Kecerdasan buatan, cloud computing, layanan digital, serta pertumbuhan ekonomi digital Indonesia akan terus menciptakan kebutuhan listrik baru dalam skala yang sangat signifikan," ujar Dini.
Tantangan terbesar PLN menurut Dini adalah menjaga keseimbangan antara akselerasi kapasitas pasokan dan keandalan, keterjangkauan harga, serta stabilitas sistem jangka panjang. Pembangkit dan jaringan tidak bisa dibangun mendadak ketika gedung data center sudah berdiri.
Karena itu PLN mendorong pendekatan early alignment, yakni koordinasi sejak tahap awal pengembangan proyek. Pengembang data center diminta menyampaikan proyeksi permintaan lebih jelas, jadwal energisasi yang realistis, dan kecepatan pengembangan kapasitas yang terukur.
"Komitmen lebih awal dan koordinasi lebih erat dari kedua belah pihak, didukung oleh proyeksi permintaan yang lebih jelas, jadwal energisasi yang realistis, kecepatan pengembangan kapasitas yang tepat, serta kerja sama yang lebih kuat antara PLN, pelanggan, dan pemerintah. Oleh karena itu, pengelolaan komitmen pusat data harus menjadi proses perencanaan bersama," kata Dini.
Bagi pelanggan rumah tangga dan industri lain, pertumbuhan beban data center bisa berarti dua hal. Di satu sisi, tambahan permintaan dalam skala besar membantu PLN menambah basis pendapatan dan menyeimbangkan pemanfaatan pembangkit. Di sisi lain, lonjakan beban yang tidak terencana berisiko menekan cadangan daya di suatu wilayah.
Darmawan menyatakan PLN ingin pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan berjalan seiring perkembangan sektor digital. Perencanaan dilakukan lebih awal agar kebutuhan energi bisa diantisipasi dan investasi tumbuh berkelanjutan.
"Meningkatnya kebutuhan listrik dalam ekosistem data center menunjukkan semakin pentingnya infrastruktur energi bagi pertumbuhan ekonomi digital," ujarnya.
Posisi PLN dalam rantai ekonomi digital jadi kian strategis. Tanpa pasokan listrik yang andal dan terjadwal, ekspansi data center di luar Jawa berisiko tertunda. Sebaliknya, kesiapan jaringan sejak awal bisa mempercepat masuknya investasi pusat data ke Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.