KALIMANTAN UTARA — Founder Digifolium, Weliyan Tanoyo, menyebut dua kendala utama yang membuat penjualan daring UMKM belum maksimal, yakni belum terbiasa dengan fitur lokapasar dan keterbatasan sumber daya manusia. Kedua hambatan itu muncul ketika pelaku UMKM masih berperan sebagai single fighter sehingga pelatihan yang diterima tidak segera dijalankan. Temuan ini disampaikan dalam sesi Digitalization Bootcamp rangkaian Bootcamp UMKM Untuk Indonesia 2026.
Weliyan menegaskan bahwa persoalan utama pelaku UMKM bukanlah ketidakmampuan teknis. Menurut dia, banyak pengusaha sebenarnya mampu, hanya saja belum terbiasa menggunakan fitur-fitur yang tersedia di lokapasar.
"Jadi sebenarnya bukan gaptek (gagap teknologi), hanya belum terbiasa. Yang berikutnya banyak UMKM masih single fighter, sehingga kemampuannya terbatas. Pelatihan dan materi yang bagus tidak segera dikerjakan sehingga lupa," ujarnya dikutip pada Jumat (9/10/2026).
Selain soal kebiasaan, Weliyan menyoroti struktur usaha yang masih bertumpu pada satu orang. Banyak UMKM belum memiliki tim yang bisa membagi pekerjaan, sehingga kapasitas untuk mengeksekusi strategi penjualan daring jadi terbatas.
Dampaknya, materi pelatihan yang sebenarnya bagus tidak langsung dipraktikkan. Pelaku usaha kembali ke rutinitas harian dan akhirnya melupakan langkah-langkah yang sudah dipelajari.
Dari dua kendala yang dipaparkan, ada beberapa langkah praktis yang bisa dijalankan pelaku usaha untuk meningkatkan penjualan daring:
Sesi Digitalization Bootcamp menjadi salah satu upaya menjembatani kesenjangan kemampuan digital pelaku UMKM. Program Bootcamp UMKM Untuk Indonesia 2026 menyasar pengusaha yang ingin memperluas pasar, termasuk menembus pasar global.
Bagi pelaku usaha, pesan Weliyan cukup jelas: kendala utama bukan pada alat, melainkan pada kebiasaan dan kapasitas tim. Dua hal itu bisa dibenahi bertahap tanpa harus menunggu mahir teknologi lebih dulu.