TARAKAN — Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan Tamrin Toha menyatakan revitalisasi tahun ini menjangkau sekolah dari jenjang PAUD, SD, sampai SMP. Bentuk intervensinya tidak seragam karena disesuaikan dengan kondisi bangunan dan kebutuhan masing-masing satuan pendidikan.
Sebagian sekolah hanya menjalani rehabilitasi pada bagian bangunan yang rusak. Sekolah dengan kerusakan lebih besar bisa mendapat pembangunan baru atau dibongkar lalu dibangun kembali.
Rehabilitasi Jadi Pola Pekerjaan Terbanyak
Dari hampir 40 sekolah yang masuk program, rehabilitasi mendominasi jenis pekerjaan. Penanganan diarahkan pada bagian bangunan yang mengalami kerusakan agar fasilitas belajar mengajar kembali layak dipakai.
Tingkat kerusakan menjadi dasar penentuan prioritas. Kerusakan sedang hingga berat didorong masuk program revitalisasi, sedangkan kerusakan ringan masih bisa ditangani sekolah memakai dana operasional.
"Kalau kerusakannya ringan, sekolah masih bisa melakukan perbaikan menggunakan BOS. Yang kita prioritaskan untuk revitalisasi adalah sekolah dengan kondisi kerusakan sedang sampai berat," jelas Tamrin.
Pemetaan Ulang Jadi Dasar Penentuan Intervensi
Pemetaan kebutuhan dilakukan berdasarkan kondisi sarana dan prasarana tiap sekolah. Hasilnya menentukan apakah sebuah sekolah cukup direhabilitasi atau perlu perlakuan lebih besar seperti pembangunan ulang.
Dengan cara itu, sekolah yang hanya butuh perbaikan tidak diperlakukan sama dengan bangunan yang kondisinya sudah menuntut pembangunan dari awal. Intervensi disesuaikan dengan skala kerusakan masing-masing.
Pengawasan Melibatkan Kejaksaan dan BPK
Pelaksanaan revitalisasi diawasi Dinas Pendidikan, dengan pengawasan tambahan dari pihak kejaksaan dan Badan Pemeriksa Keuangan. Tamrin menegaskan pekerjaan harus mengikuti kebutuhan dan ketentuan yang berlaku.
"Pengawasan tetap ada. Dari dinas kita melakukan pemantauan, kemudian ada kejaksaan dan BPK yang juga memiliki fungsi pengawasan. Jadi pelaksanaan pekerjaan harus sesuai dengan kebutuhan dan ketentuan yang berlaku," tuturnya.
Usulan 2027 Disiapkan untuk Sekolah yang Belum Tersentuh
Meski jumlah sekolah yang direvitalisasi tahun ini tergolong banyak, kebutuhan perbaikan masih ditemukan di sejumlah satuan pendidikan lain. Disdik Tarakan menyiapkan usulan baru berdasarkan kondisi bangunan masing-masing.
Sekolah yang belum mendapat penanganan akan dipetakan ulang dengan mempertimbangkan skala kerusakan dan kebutuhan fasilitas. Usulan untuk 2027 disusun dari hasil pemetaan itu.
"Untuk tahun 2027, kita akan mengusulkan lagi sekolah-sekolah yang memang membutuhkan penanganan. Harapannya program revitalisasi bisa menjangkau lebih banyak sekolah yang kondisinya memang perlu diperbaiki," pungkas Tamrin.